Self Concept dan Personal Branding di Media Sosial: Membangun Citra Diri atau Kehilangan Jati Diri?
Gambar : Ilustrasi ai
Sopi ulpatun hasanah - universitas siber asia
Fenomena personal branding di media sosial semakin berkembang, terutama di kalangan Generasi Z. Media sosial seperti TikTok dan Instagram tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga menjadi tempat seseorang menunjukkan kemampuan, membangun reputasi, dan menentukan bagaimana dirinya ingin dikenal oleh orang lain.
Personal branding dapat menjadi sarana yang positif apabila dilakukan sesuai dengan kemampuan dan karakter diri. Seseorang dapat membagikan keterampilan, pengalaman, prestasi, maupun kegiatan yang menjadi minatnya. Dengan begitu, media sosial dapat membantu seseorang membangun citra diri yang positif sekaligus memperkenalkan potensi yang dimiliki.
Namun, personal branding juga dapat menjadi masalah ketika seseorang terlalu fokus pada penilaian orang lain. Keinginan untuk terlihat sukses, menarik, produktif, atau sempurna dapat membuat seseorang menampilkan kehidupan yang berbeda dari kenyataan. Jika hal tersebut terus dilakukan, seseorang dapat mengalami tekanan dan perlahan kehilangan jati dirinya.
Di sinilah pentingnya self concept atau konsep diri. Self concept membantu seseorang memahami siapa dirinya, apa kelebihan dan kekurangannya, serta nilai apa yang ingin dipertahankan. Dengan konsep diri yang positif, seseorang dapat membangun personal branding tanpa harus menjadi orang lain.
Oleh karena itu, personal branding seharusnya bukan tentang menciptakan kehidupan yang sempurna di media sosial. Personal branding sebaiknya menjadi cara untuk menunjukkan sisi terbaik diri secara autentik, konsisten, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, media sosial dapat digunakan untuk membangun citra diri tanpa harus kehilangan jati diri.