Ketika "Bang Jago" Viral : Belajar Kepemimpinan dari Preman Jalanan
gambar : ilustrasi ai
Oleh Irma Nurhasanah
Mahasiswa Manajemen, Universitas Siber Asia
Awal pekan ini, linimasa media sosial ramai oleh video seorang juru parkir liar di Jalan Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat. Pria yang dijuluki warganet "Bang Jago" itu terekam memaksa tarif parkir kepada pengendara, lalu menantang duel siapa saja yang menolak. Videonya menyebar cepat, disertai umpatan, sindiran, sekaligus rasa geram publik. Polisi bergerak, dan yang bersangkutan kini telah ditangkap serta dinyatakan positif menggunakan narkoba.
Di permukaan, ini hanya berita kriminal biasa: seorang preman jalanan yang akhirnya berurusan dengan hukum. Namun jika ditelisik lebih dalam, fenomena "Bang Jago" sebenarnya adalah cermin kecil dari persoalan besar yang jauh lebih relevan untuk kita renungkan bersama, yaitu tentang apa yang terjadi ketika kekuasaan, sekecil apa pun bentuknya, dipegang oleh orang yang salah memahami arti memimpin.
Kekuasaan Kecil, Watak Besar
Seorang juru parkir liar sebenarnya memegang otoritas yang sangat terbatas, hanya sepetak trotoar dan segenggam recehan. Tetapi dari video yang viral itu, otoritas sekecil itu sudah cukup baginya untuk berubah menjadi sosok yang memaksa, mengancam, bahkan menantang kekerasan. Ia menunjukkan pola yang sebenarnya sangat manusiawi dan karena itu berbahaya: kekuasaan, dalam skala apa pun, punya kecenderungan untuk menyingkap watak asli penggenggamnya.
Dalam kajian kepemimpinan, pola ini dikenal sebagai gejala kepemimpinan koersif, yaitu gaya memimpin yang mengandalkan paksaan, intimidasi, dan ancaman untuk membuat orang lain patuh. Gaya ini memang bisa menghasilkan kepatuhan dalam waktu singkat, tetapi hampir selalu meninggalkan ketakutan, bukan rasa hormat, di antara orang-orang yang "dipimpinnya". "Bang Jago" mungkin tidak pernah membaca satu pun teori kepemimpinan, tetapi perilakunya menjadi contoh telanjang tentang bagaimana gaya ini bekerja, dan bagaimana ia pada akhirnya runtuh sendiri.
Dua Wajah Kepemimpinan di Ruang Publik
Menariknya, fenomena ini juga muncul berdampingan dengan kisah viral lain pekan ini yang jauh lebih hangat: seorang musisi jalanan bernama Armond Davis yang tampil memukau di depan Chad Smith, penabuh drum Red Hot Chili Peppers, hingga videonya ikut menyebar luas. Dua peristiwa ini, meski tidak berkaitan langsung, sebetulnya menyodorkan dua wajah kepemimpinan yang bertolak belakang.
Yang satu memaksakan pengaruh lewat ancaman dan tantangan duel. Yang satu lagi menarik perhatian dan rasa hormat murni lewat kompetensi serta kesungguhan pada apa yang ia lakukan, tanpa memaksa siapa pun. Perbedaan ini sejalan dengan konsep kepemimpinan melayani atau servant leadership, yaitu gaya memimpin yang menempatkan kompetensi, integritas, dan pelayanan kepada orang lain sebagai sumber pengaruh, bukan kekuatan atau ancaman. Publik, dengan caranya sendiri, sebenarnya sudah memilih: video musisi jalanan itu dibagikan dengan kekaguman, sementara video juru parkir itu dibagikan dengan kemarahan.
Pelajaran untuk Pemimpin Masa Depan
Fenomena "Bang Jago" barangkali terasa jauh dari ruang kelas atau ruang rapat perusahaan. Namun bagi siapa pun yang tengah belajar menjadi pemimpin, di kampus, di organisasi, kelak di dunia kerja, ada tiga pelajaran yang bisa dipetik.
● Pertama, kekuasaan sekecil apa pun perlu dipegang dengan kesadaran penuh. Semakin kecil ruang kendali seseorang, semakin mudah ia tergoda menyalahgunakannya karena merasa tidak ada yang mengawasi.
● Kedua, kepatuhan yang lahir dari rasa takut selalu rapuh. Ia bisa runtuh dalam sekejap begitu ada satu orang yang berani menolak, seperti yang akhirnya terjadi ketika warga melaporkan kejadian ini ke polisi.
● Ketiga, pengaruh yang sejati dibangun dari kompetensi dan penghormatan kepada orang lain, bukan dari ancaman. Publik dengan cepat mengenali mana yang satu dan mana yang lain, dan menghukum atau memuji sesuai dengan itu.
Penutup
Viralnya "Bang Jago" mungkin akan meredup dalam beberapa hari, digantikan tren lain di linimasa. Tetapi pertanyaan yang ia tinggalkan layak bertahan lebih lama: seberapa sering kita, dalam skala yang jauh lebih kecil dan tidak pernah viral, tergoda memaksakan kehendak hanya karena kebetulan sedang memegang kendali? Belajar dari jalanan Tambora, mungkin justru di situlah pelajaran kepemimpinan yang paling jujur bisa ditemukan, bukan dari buku teks, melainkan dari cermin yang dipegang oleh media sosial kepada kita semua.
Penulis Irma Nurhasanah mahasiswa Program Studi Manajemen (PJJ), Universitas Siber Asia (UNSIA).