Ketika Pemimpin Menjawab Kritik dengan Pernyataan, Bukan SolusiSebuah Esai Refleksi Gaya Kepemimpinan Prabowo Subianto di Tengah Polemik Program MBG dan Gelombang Migrasi WNI
Oleh Erika Oktaviani – Universitas Siber Asia
Pertengahan Juli 2026 menjadi momen yang cukup mengguncang ruang publik Indonesia. Media sosial dibanjiri oleh postingan satire berisi “Lapor Pak Prabowo, kami sudah pindah ke negara lain”. Tren ini dipicu oleh pidato Presiden Prabowo dalam peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 yang mempersilakan warga yang terus merasa pesimis terhadap masa depan Indonesia untuk mencari negara lain. Tidak lama kemudian, program unggulan Presiden Prabowo dari masa kampanye yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai gelombang kritik terkait dugaan pemborosan APBN, hingga berujung pada gugatan uji materiil di Mahkamah Konstitusi. Dari dua peristiwa ini, ada satu titik temu yang sama yaitu bagaimana cara seorang pemimpin merespons kritik dari rakyatnya. Esai ini berargumen bahwa pola respon yang cenderung defensif dan konfrontatif terhadap kritik publik beresiko akan kehilangan kepercayaan dari masyarakat. Alih-alih berusaha memperkuat kepercayaan masyarakat, pidato Presiden yang cenderung defensif dan konfrontatif itu malah terkesan seperti menyepelekan dan menantang masyarakat yang telah memberi kritik. Jika dibaca melalui perspektif seni dan gaya kepemimpinan serta psikologi humanistik perilaku tersebut bertentangan dengan prinsip kepemimpinan yang memanusiakan rakyatnya.
Dalam kajian seni dan gaya kepemimpinan, ada beberapa pendekatan mulai dari gaya otoritatif, transaksional, hingga transformasional. Pemimpin transformasional dicirikan oleh kemampuan menginspirasinya melalui visi Bersama dan keterlibatan emosional yang tulus dengan pengikutnya, bukan melalui instruksi searah. Perspektif ini selaras dengan psikologi humanistik yang dipelopori oleh tokoh seperti Carl Rogers dan Abraham Maslow, yang menempatkan empati, penerimaan tanpa syarat, dan penghargaan terhadap martabat individu sebagai inti dari relasi yang sehat. Sebagai contohnya antara lain yaitu relasi antara pemimpin dan yang dipimpin. Seorang pemimpin yang humanis idealnya memvalidasi keresahan rakyatnya sebagai bentuk kepedulian terhadap bangsa, bukan meresponsnya dengan nada menantang atau bahkan mempersilakan mereka pergi mencari negara lain. Gaya komunikasi semacam itu, bagaimanapun disampaikan dengan nada percaya diri, berpotensi ditangkap publik sebagai penolakan terhadap dialog itu sendiri.
Respons Defensif terhadap Kritik Program MBG
Dari masa kampanye, program MBG memang dirancang dengan tujuan mulia yaitu mengatasi stunting dan kekurangan gizi pada anak, ibu hamil, dan lansia, dengan alokasi dana APBN yang terus meningkat pada awal berjalannya program ini hingga pada tahun 2026 berkisar antara Rp268 triliun hingga Rp335 triliun untuk sekitar 82,9 juta penerima manfaat. Niat baik di balik program ini sulit dibantah, namun cara pemerintah merespons kritik atas potensi adanya pemborosan dan lemahnya pengawasan justru menjadi sorotan. Alih-alih terbuka dan transparan mengenai data anggaran kepada masyarakat, Presiden Prabowo memilih membandingkan kritik tersebut dengan persoalan lain yang menurutnya lebih besar, yaitu praktik transfer pricing dan under-invoicing yang disebutnya telah merugikan negara selama puluhan tahun tanpa mendapat perhatian dan protes yang sama. Pola argumentasi sejenis ini di dalam ilmu komunikasi dinamakan bentuk pengalihan atau “whataboutism”, secara gaya kepemimpinan cenderung menghindari akuntabilitas langsung atas persoalan yang sedang terjadi. Kita semua tahu bahwa membandingkan masalah pertama dengan masalah kedua tidak membuat masalah pertama tersebut menjadi masalah yang ringan, dan dengan cara yang sama juga tidak akan membuat kedua permasalahan tersebut selesai. Kajian akademik dari Fakultas Hukum Indonesia turut mencatat bahwa konsentrasi kewenangan yang diberikan terlalu besar pada Badan Gizi Nasional (BGN) selaku pelaksana program membuka ruang konflik kepentingan dan lemahnya pengawasan. Dari program MBG sendiri menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata tentang kebijakan, melainkan juga tentang bagaimana kualitas kepemimpinan seseorang dan akuntabilitas dari kelembagaan yang ikut berpartisipasi.
Pidato “Silakan Cari Negara Lain” dan Dampaknya
Pada 12 Juli 2026 dalam acara Hari Koperasi, Presiden Prabowo menjadi contoh paling nyata bagaimana retorika seorang pemimpin dapat berdampak luas secara psikologis dan sosial. Pernyataan Presiden Prabowo yang mempersilakan warga yang masih meragukan masa depan Indonesia untuk mencari negara lain, meski diikuti ajakan untuk bersatu bagi yang memilih tinggal, tidak lama langsung memicu tren yang menaggapi dengan satire di media sosial. Fenomena ini menarik untuk dianalisis bukan hanya sekadar reaksi warganet, melainkan data yang menyertainya. Sepanjang bulan Januari hingga pertengahan bulan Juli 2026 saja, tercatat 784 WNI resmi melepas status kewarganegaraannya, dengan akumulasi lima tahun terakhir mencapai 8.600 orang. Lalu sekitar 14.200 paspor baru diterbitkan dengan dokumen pendukung visa jangka panjang atau permanent residency di luar negeri hanya dalam semester pertama 2026. Data ini menunjukkan bahwa fenomena migrasi yang terjadi saat ini adalah masalah serius, bukan sekadar isu satire belaka, melainkan gejala nyata dari keresahan sebagian warga terhadap arah bangsanya. Dari sudut pandang gaya kepemimpinan, pernyataan spontan yang keluar dari seorang kepala negara memiliki daya sebar dan daya pukul psikologis yang jauh lebih besar dibanding pernyataan warga biasa. Ketika respons yang diberikan berupa semacam ultimatum “silakan pergi”, alih-alih membuka ruang dialog untuk memahami akar keresahan tersebut, yang terjadi bukan penguatan persatuan, melainkan potensi keretakan rasa saling percaya antara negara dan sebagian warganya.
Memahami Sisi Lain di Balik Retorika
Setelah menganalisa dua kasus di atas secara kritis, penting rasanya untuk tidak berhenti hanya pada satu sudut pandang saja. Esai ini ditulis berpijak pada nalar ilmiah dan sistematis yang dengan semestinya juga menguji argumen dari sudut pandang yang berseberangan sebelum akhirnya sampai pada kesimpulan. Oleh karena itu penulis ingin memahami dulu konteks dan niat yang melatari pernyataan-pernyataan dari pidato Presiden Prabowo.
Semangat menggebu saat Presiden Prabowo berpidato bisa jadi adalah caranya untuk menanamkan bentuk optimisme kolektif dan gotong royong dalam membangun perekonomian nasional melalui penguatan koperasi (Koperasi Desa Merah Putih) dan program-program kesejahteraan seperti MBG. Ajakannya untuk tidak larut dalam pesimisme masa depan Indonesia, jika dilihat dari niat baiknya, dapat dipahami sebagai upaya bagaimana menjaga semangat juang bangsa di tengah tantangan ekonomi global di era sekarang. Beberapa kali pemerintah pun menegaskan bahwa pendanaan MBG berasal dari hasil efisiensi anggaran, bukan pemborosan baru, dan program ini sejalan dengan komitmen Indonesia terhadap Sustainable Development Goals PBB dalam pengentasan kemiskinan dan kelaparan. Sudut pandang ini baik untuk dihadirkan agar kritik yang dibangun dalam esai ini tetap proporsional. Dalam artian bukan semata menyerang pribadi seorang pemimpin, melainkan menilai bagaimana ia mengelola komunikasi dan kebijakan publik. Dari sinilah kita bisa menilai secara lebih adil, apa sebenarnya makna kepemimpinan yang baik itu.
Kepemimpinan yang matang tidak diukur dari seberapa tegas seorang pemimpin mempertahankan posisinya, tetapi juga dari seberapa besar kapasitasnya untuk mampu mendengarkan kritik tanpa jatuh ke sikap defensif. Permasalahan MBG dan isi pidato Presiden Prabowo “silakan cari negara lain” menunjukkan bahwa gaya komunikasi kepemimpinannya yang konfrontatif. Jika sekalipun ucapan itu keluar dari niat menjaga optimisme bangsa, tetap akan berisiko menimbulkan reaksi masyarakat yang sebaliknya jika tidak diimbangi dengan keterbukaan diri dan empati seorang pemimpin. Perspektif estetika humanisme mendefinisikan kepemimpinan yang ideal yaitu kepemimpinan yang memanusiakan-manusia yang menempatkan dialog, transparansi anggaran publik, dan penghargaan terhadap keresahan warga sebagai fondasi utama, bukan sebagai gangguan yang perlu dibungkam dengan retorika. Ke depannya, alangkah lebih baik jika ruang diskusi dengan publik dilakukan dengan lebih terbuka dan komunikasi bisa lebih empatik agar menjadi kunci bagi terciptanya kepercayaan yang lebih kokoh antara pemimpin negara dan warganya.
Sumber Referensi
1. Liputan6.com. (2026, 20 Juli). Prabowo Respons Kritik MBG yang Dinilai Boros dan Ancam Ekonomi. https://www.liputan6.com/bisnis/read/8250570/prabowo-respons-kritik-mbg-yang-dinilai-boros-dan-ancam-ekonomi
2. ANTARA News Sulteng. (2026, 15 Mei). MBG dituding boros, Prabowo: Dibiayai dari efisiensi anggaran. https://sulteng.antaranews.com/berita/374714/mbg-dituding-boros-prabowo-dibiayai-dari-efisiensi-anggaran
3. Suara.com. (2026, 20 Juli). Prabowo: MBG Dikritik Disebut Boros, Duit Ribuan Triliun Menguap Tak Ada yang Protes. https://www.suara.com/news/2026/07/20/202118/prabowo-mbg-dikritik-disebut-boros-duit-ribuan-triliun-menguap-tak-ada-yang-protes
4. NU Online. Akui Dapat Banyak Kritik, Presiden Prabowo Heran MBG Disebut Pemborosan. https://www.nu.or.id/nasional/akui-dapat-banyak-kritik-presiden-prabowo-prabowo-heran-mbg-disebut-pemborosan-aUUwb
5. Lestarini, R. (2026, 24 Juni). Sebuah Refleksi MBG di Medio Tahun 2026: MBG Investasi SDM atau Beban APBN? Fakultas Hukum Universitas Indonesia. https://law.ui.ac.id/sebuah-refleksi-mbg-di-medio-tahun-2026-mbg-investasi-sdm-atau-beban-apbn-oleh-prof-ratih-lestarini-s-h-m-h/
6. Kompas.com. (2026, 12 Juli). Prabowo: Yang Merasa Indonesia Suram, Silakan Cari Negara Lain. https://nasional.kompas.com/read/2026/07/12/17572291/prabowo-yang-merasa-indonesia-suram-silakan-cari-negara-lain
7. Olenka.id. Prabowo 'Usir' WNI yang Sebut Indonesia Suram: Cari Negara Lain. https://olenka.id/prabowo-usir-wni-yang-sebut-indonesia-suram-cari-negara-lain
8. AFU.id. Gerakan “Lapor Pak Prabowo Kami Sudah Pindah ke Negara Lain” Ramai di Medsos. https://afu.id/nasional/gerakan-lapor-pak-prabowo-kami-sudah-pindah-ke-negara-lain-ramai-di-medsos
9. Sumbawanews.com. Prabowo Sentil yang Anggap Indonesia Suram: Silakan Pindah Negara. https://sumbawanews.com/berita/nasional/prabowo-sentil-yang-anggap-indonesia-suram-silakan-pindah-negara/